Pembelajaran Tatap Muka Dimulai, Vaksinasi dan Prokes Jadi Sorotan Utama

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menerbitkan rekomendasi penerapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM) pada semester genap tahun 2022.

“Anjuran ini dikeluarkan sehubungan dengan peningkatan kasus pasca-liburan karena munculnya strain baru Omicron, terutama berbahaya bagi anak-anak yang tidak divaksinasi,” kata Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), Ketua IDAI

IDAI menekankan dalam rekomendasinya apakah ada kasus penularan lokal varian Omicron di wilayah tertentu. Untuk mutasi ini, jika tidak ada atau peningkatan penularan, PTM 6 tahun ke atas dapat diterima 100%. dengan beberapa kondisi tertentu.

Sebaliknya, untuk kasus anak di bawah usia 6 tahun, pembelajaran tatap muka tidak dianjurkan sampai dinyatakan tidak ada peningkatan atau kasus baru.

Direktur Jenderal IDAI Hikari Ambara Sjakti menambahkan, “Rekomendasi ini dikeluarkan dengan mempertimbangkan pentingnya kurikulum untuk anak usia sekolah dan penerapan beberapa metode pembelajaran yang inovatif oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI”.

Berikut rekomendasi IDAI untuk Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM) 2022:

  1. Semua pendidik (guru) dan staf harus 100% divaksinasi.
  2. Anak-anak yang dapat bersekolah jika telah menyelesaikan dua dosis vaksinasi COVID-19 dan tidak memiliki penyakit penyerta
  3. Protokol kesehatan seperti penggunaan masker selama PTM, menyediakan fasilitas cuci tangan, menyiapkan hand sanitizer, menjaga jarak, menghindari keramaian, menjaga sirkulasi udara, dan mengaktifkan sistem penyaringan aktif untuk anak, guru, dan sekolah harus selalu diterapkan selama PTM. Karyawan yang terinfeksi dan anggota keluarganya yang diduga memiliki gejala COVID-19
  4. Pembelajaran tatap muka dapat dilakukan 100% apabila tidak ada peningkatan jumlah corona19 yang terkonfirmasi di wilayah tersebut dan tidak ada penyebaran regional Omicron di wilayah tersebut.
  5. Pembelajaran tatap muka dapat dilakukan dengan metode hybrid (on/offline) jika masih terdapat kasus terkonfirmasi COVID-19 tetapi angka positifnya kurang dari 8%. 19 100%
  6. Untuk anak di bawah usia 6 tahun, sekolah pembelajaran tatap muka tidak disarankan sampai tidak ada kasus baru COVID-19 yang dikonfirmasi atau tidak ada peningkatan kasus baru.
  7. Sekolah dapat menyediakan pembelajaran sinkron dan asinkron secara online dan memungkinkan keterlibatan orang tua dalam kegiatan luar ruangan di rumah.
  8. Sekolah dan orang tua dapat terlibat dalam kegiatan kreatif di rumah, seperti mengadakan pembelajaran luar ruang terbuka untuk setiap keluarga, dengan modul yang dipimpin sekolah seperti merevitalisasi permainan lokal, kegiatan berkebun, dan eksplorasi alam.
  9. Anak-anak dengan penyakit penyerta dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak. Penyakit penyerta anak meliputi penyakit seperti keganasan, diabetes, penyakit ginjal kronis, penyakit autoimun, penyakit paru-paru kronis, obesitas, dan hipertensi.
  10. Orang tua dianjurkan untuk menyelesaikan imunisasi rutin untuk anak usia 6 tahun ke atas segera.
  11. Seorang anak dianggap terlindungi dari vaksinasi Covid-19 jika dua vaksinasi lengkap telah selesai dan perlindungan yang memadai telah dinyatakan dua minggu setelah suntikan vaksinasi terakhir.
  12. Sekolah dan pemerintah memberikan kebebasan kepada orang tua dan keluarga untuk memilih pembelajaran tatap muka atau online, tanpa paksaan.
  13. Bagi anak-anak yang memilih belajar online, sekolah dan pemerintah harus memastikan tersedianya proses belajar online.
  14. Untuk rekomendasi lengkap terkait protokol kesehatan dan proses mitigasi, lihat rekomendasi IDAI sebelumnya.
  15. Keputusan untuk membuka kembali atau menutup sekolah harus memperhatikan apakah ada kasus baru COVID-19 di sekolah
  16. Rekomendasi ini bersifat dinamis dan beradaptasi dengan perkembangan terkini.
Baca Juga :  Marabunta Resto & Bar Semarang - Harga Menu Review & Fasilitas