Eksistensi Puisi Dalam Film-film Indonesia

Karya-karya besar seringkali memicu lahirnya tidak hanya puisi, tetapi juga karya-karya lain dalam bentuk lain. Tak jarang kehadiran puisi hadir untuk mengisi elemen penting dunia perfilman.

Melalui dialog atau monolog yang dihadirkan oleh para tokoh dalam film, puisi dapat menjadi hidup dan merangkum emosi secara efektif, dan hanya dengan beberapa kalimat, puisi dapat membangkitkan berbagai interpretasi pada penontonnya. Daftar berikut adalah bentuk puisi yang dilebur ke dalam beberapa film Indonesia.

Juni 2021

Film ‘Uni’ yang tayang akhir tahun 2021 ini menceritakan tentang seorang remaja laki-laki bernama Yuni (Arawinda Kiana) yang tinggal di pinggiran kota Serangsi. Yuni, dengan cita-citanya yang tinggi, akhirnya harus menghadapi nasib yang sama yaitu menikah saat masih duduk di bangku sekolah tempat tinggalnya.

Puisi ‘Juni Rain’ karya Sapardi Djoko Damono mengungkapkan keinginan Yuni untuk lari dari pernikahan anak. Juni adalah bulan kering, dan hujan yang turun menandakan bahwa tidak ada yang siap.

Ekspresi metafora hujan dan Juni juga sejalan dengan cerita Uni bahwa seseorang harus dewasa sebelum waktunya. Nama tokoh utama, Yuni, juga diambil dari nama bulan dalam puisi Dr. Pardi.

Kata Kata Istirahat (2017)

Biografi penyair Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto ditampilkan dalam film berjudul “Istirahat Kata”. Kritik langsung terhadap kehidupan yang terpinggirkan dan belenggu kemiskinan di era Orde Baru diungkapkan melalui puisi-puisi Weezy Tukul.

Akhirnya keberanian puitisnya membawa Wiji Thukul ke pengasingan, kengerian, dan pengasingan hingga tidak ada lagi jejaknya yang bisa ditemukan. Puisi yang dibacakan istrinya Sipon (Marissa Anita) menutup kegelapan akhir cerita film tersebut.

Baca Juga :  Sharon Stone Dalam Pembicaraan Akhir Untuk Memerankan Penjahat Dalam Blue Beetle

Jangan pergi
Aku juga tidak ingin kamu pulang
aku ingin kamu menjadi

bagaimana dengan cinta? (2002)

Kisah cinta legendaris Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) mungkin tidak akan ada jika kebetulan buku “Aku” karya Sjuman Djaya bisa menyatukan keduanya. Buku yang mengisahkan kehidupan dan karya penyair terkenal Chairil Anwar itu akhirnya menjadi hits setelah film Ada Apa Dengan Cinta?

Unsur puitis film AADC tidak hanya memenangkan nama Anwar Cheryl, tetapi juga puisi ‘Aku ingin selamanya’ yang dilantunkan Shinta saat mengikuti lomba puisi, sebuah karya dengan baris awal. “Aku berlari ke hutan dan bernyanyi” Ada puisi Rangga “Tentang Seseorang”, yang memenangkan kompetisi saat itu.

bagaimana dengan cinta? 2 (2016)

Kisah cinta SMA yang berakhir dengan perpisahan New York dan Jakarta membuka sekuel drama cinta lama yang kembali bersemi antara Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Didukung oleh teman-teman geng, Cinta dan Rangga memulai perjalanan melalui masa lalu untuk memecahkan masalah 14 tahun yang belum terpecahkan.

Melanjutkan format film sebelumnya, “Ada Apa Dengan Cinta? 2” Mira Lesmana dan Riri Riza bekerja sama dengan penyair berbakat Aan Mansyur untuk mengisi slot Poetry Elements, elemen pendukung penting film tersebut.

Puisi Manshur “Hari ini tidak ada New York”, yang dibacakan Langa di awal film, berhasil membuka cerita lama.

Dan masa lalu datang padaku seperti angin
Saya senang saya senang
Aku ingat kamu panas dan dingin di dahiku

Ki (2005)

‘Gi’ adalah sebuah karya yang menggambarkan biografi Nicholas Saputra, seorang aktivis mahasiswa yang lahir dari keturunan Tionghoa dengan pemikiran kritis. Ki adalah orang yang menyuarakan penentangan terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak adil dari pemerintah orde baru.

Baca Juga :  Drishyam Review: Sisi Lain Dari Kebenaran

Film ini sangat mengecewakan dengan segala sesuatu yang tidak bekerja dengan benar melalui puisi. Adalah puisi Sohyukgi yang menutup kesedihan film ini.

kemarilah sayangku…
Kalian baik, baik, dan simpatik.
Berdiri di langit yang luas atau awan mendung
kami tidak menanam apapun
kita tidak akan kehilangan apapun

Puisi tersebut dibacakan sebagai monolog pada momen mengharukan ketika bendera tersebut menghilang sehari sebelum hari kemerdekaan Indonesia dan ditemukan tewas di puncak Gunung Semeru.