Cerita Anak Buah Mohon Bawa Handi-Salsa ke Puskesmas Dibalas Bentakan

Jakarta, BizWeb.co.id Indonesia

Terdakwa, Kopda Andreas Dwi Atmoko, adalah bawahan Kolonel Priyanto dalam rencana pembunuhan terhadap Handi dan Salsa. Naggrekdiminta Priyanto Bawa korban ke Puskesmas terdekat. Namun, Priyanto menolak permintaan tersebut.

Andreas berbicara dengan berlinang air mata tentang pengasingan dua korban dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tinggi Militer II Jakarta Timur.

Pada awalnya, ketua pengadilan dari sidang kedua menanyakan tanggal kecelakaan. Andras menjelaskan, mobil yang dikendarainya menabrak pasangan tersebut dari arah berlawanan.

Handi dan Salsa diangkat ke dalam mobil. Menurut Andreas, saat itu Salsa sudah meninggal.

“Setahu saya, dia sudah meninggal,” kata Andreas, Selasa (15/3) di Pengadilan Tinggi Militer, Jakarta Timur.

Kemudian Andreas, yang duduk di kursi pengemudi, mengemudikan mobil untuk mencari Pusquesmas. Namun, setelah berjalan hanya 1 km, Kolonel Priyanto menghentikan mobil dan meminta untuk menyerahkan kemudi, dan perjalanan dilanjutkan.

Andreas mengaku pernah melihat Puskesmas dan meminta Priyanto berhenti untuk membawa pasien ke petugas medis. Namun, di bawah kendali Priyanto, mobil terus melaju.

“Saya lewat Puskesmas. Saya juga minta izin untuk memiliki Puskesmas. Kami harus bawa ke Puskesmas tapi dia tidak memperhatikan fakta dia masih berjalan,” kata Andreas.

Mendengar permintaan tersebut, Priyanto memerintahkan Andreas untuk diam dan mengikutinya. Andreas mengaku sempat meminta korban dibawa ke Puskesmas.

“Diam, ikuti aku!” kata Andreas menirukan Priyanto.

Andreas pun menjelaskan, Handi dan Salsa pasti akan dikejar. Kemudian Andreas menangis. Dia bisa mendengar isak tangis dan tangannya menyeka air matanya di depan hakim.

Andreas mengaku prihatin dengan masalah masa depan saat memiliki anak dan istri.

“Saya sudah menjelaskan bahwa saya membutuhkan anak ini,” kata Andreas sambil menangis.

Baca Juga :  Presiden Korsel Ingin Pindah Kantor Dituduh Terpengaruh Ahli Feng Shui

Namun Priyanto tidak memperdulikannya. Dia meminta Andreas untuk tidak menangis dan mengatakan dia telah mengebom rumah orang.

Andreas mengutip ucapan Priyanto, “Kamu tidak perlu menjadi cengeng. Saya pernah mengebom sebuah rumah, tetapi tidak pernah tertangkap.”

Selanjutnya, di bawah kendali Priyanto, mobil terus melaju dan menggeledah sungai di Jawa Tengah, tempat jenazah Handi dan Salsa dibuang.

Sebelumnya, Kolonel Priyanto telah didakwa dengan pembunuhan dua remaja sipil sebagai pasangan suami istri di Nagreg, Jawa Barat, Handi dan Salsabila.

Priyanto dijerat dengan Pasal 340 KUHP, Pasal 338 KUHP, Pasal 333 KUHP, dan Pasal 181 KUHP.

Sebagai informasi, tiga orang prajurit TNI (Priyanto, Andreas, dan Scholet) telah ditetapkan sebagai tersangka dalam rencana pembunuhan itu. Tukang dan salsa, yang mengalami kecelakaan mobil, dibuang ke sungai di Jawa Tengah.

(iam/isn)

[Gambas:Video CNN]