Ada ‘Durian Runtuh’, Sri Mulyani Tak Perlu Ngoyo Cari Utangan

Jakarta, BizWeb.co.id Indonesia – Luar Biasa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami surplus hingga Februari 2022. Surplus ini membuat pemerintah semakin percaya diri menghadapi pembeli Surat Berharga Negara (SBN) yang menuntut suku bunga tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, hingga Februari realisasi APBN sebesar Rp 19,71 triliun atau surplus 0,11% dari produk domestik bruto (PDB). Penerimaan pajak nasional sebesar Rp 302,42 triliun, meningkat 37,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara belanja negara hanya Rp282,71 triliun (alokasi 10,42%).

Pada tahun-tahun sebelumnya, belanja hingga Februari masih tergolong rendah, mengingat kementerian/lembaga masih dalam tahap lelang. Pendapatan nasional biasanya dirayapi hanya pada bulan Maret setelah masa pelaporan pajak (SPT).

Dalam lima tahun terakhir, hanya ada satu surplus APBN hingga Februari tahun ini. Sisanya selalu merah. Defisit nominal terbesar terjadi pada Februari 2021, yakni Rp 63,39 triliun atau 0,37% dari PDB.




Surplus APBN Februari tahun ini tak lepas dari lonjakan penerimaan negara. Naiknya harga komoditas seperti minyak mentah dunia, minyak sawit mentah (CPO) atau batu bara turut meningkatkan impor nasional.

Pada Februari tahun ini, penerimaan pajak nasional sebesar Rp 302,42 triliun. Level lebih dari 300 triliun rupiah merupakan pencapaian tersendiri, mengingat penerimaan pemerintah pada Februari tahun sebelumnya berada pada kisaran 200 triliun rupiah.

Penerimaan negara yang besar ini memungkinkan pemerintah memangkas pendanaan. Pemerintah kini lebih leluasa menentukan besaran penyerapan (SBN) dalam lelang. Dalam lingkungan global yang penuh ketidakpastian, faktor ukuran pendapatan ini sangat bermanfaat bagi pemerintah.

“Saya kira pemerintah cukup optimis dengan situasi fiskal saat ini. Tingginya harga minyak telah mendorong penerimaan pemerintah secara signifikan. Kita bisa melihat operasi fiskal pemerintah surplus hingga Februari, yang pada umumnya berada di zona merah,” kata Bank Danamon. Ekonom Irman Faiz mengatakan: BizWeb.co.id Indonesia.

Baca Juga :  Kepekaan Elit Pada Rakyat Mulai Luntur


Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, mengatakan pemerintah, seperti Irman, memiliki keleluasaan untuk memutuskan penerbitan SBN tahun ini berdasarkan besaran penerimaan. “Ada sumbernya. pendapatan yang besar setelah durian runtuh dari harga komoditas. Defisit diproyeksikan akan berkurang,” kata Andry kepada BizWeb.co.id Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan defisit APBN tahun ini akan lebih kecil dari yang ditetapkan dalam APBN (4,85% dari PDB).

Selain jumlah penerimaan, Irman meyakini keberadaan Bank Indonesia menunggu pembeli Dalam lelang SBN, pemerintah bebas memutuskan untuk menerbitkan SBN. “Pemerintah lebih kepercayaan diri seiring dengan kondisi keuangan Anda saat ini. Di satu sisi, pemerintah harus menanggung biaya peningkatan utang akibat pandemi. jadi jika Menghasilkan Lebih banyak orang datang dari yang diharapkan, pemerintah kepercayaan diri Menang di bawah target,” imbuh Irman.